Memilih jurusan kuliah sebaiknya tidak hanya didasarkan pada minat, tetapi juga perlu mempertimbangkan prospek kerja setelah lulus. Berdasarkan data dari Federal Reserve Bank of New York per Februari 2025, ada sejumlah jurusan kuliah yang memiliki tingkat pengangguran tertinggi di rentang usia lulusan muda (22–27 tahun).
Jurusan dengan tingkat pengangguran tertinggi adalah Antropologi, dengan angka mencapai 9,4 persen. Di posisi berikutnya ada Fisika dengan 7,8 persen, lalu Teknik Komputer sebesar 7,5 persen. Jurusan seni juga masuk dalam daftar, seperti Seni Komersial dan Desain Grafis (7,2 persen) dan Seni Rupa (7 persen).
Jurusan Sosiologi menempati urutan selanjutnya dengan angka 6,7 persen, disusul oleh Ilmu Komputer dan Kimia yang masing-masing mencatatkan tingkat pengangguran sebesar 6,1 persen. Jurusan seperti Sistem Informasi dan Manajemen, Kebijakan Publik dan Hukum, serta Seni Liberal juga memiliki tingkat pengangguran di atas 5 persen.
Beberapa jurusan lain yang masuk dalam daftar adalah Teknologi (non-spesifik), Hubungan Internasional, Bahasa Inggris, dan Ekonomi, dengan tingkat pengangguran sekitar 4,9 hingga 5 persen.
Tingginya angka pengangguran ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Misalnya, jurusan di bidang seni dan sosial-humaniora umumnya memiliki ruang kerja yang terbatas dan sering kali hanya relevan di sektor-sektor tertentu.
Sementara itu, jurusan yang tergolong dalam STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) seperti Teknik Komputer atau Ilmu Komputer pun tidak sepenuhnya aman. Meskipun peluang kerja terbuka luas, persaingan yang ketat serta kurangnya keterampilan praktis bisa menjadi penyebab lulusan sulit mendapatkan pekerjaan.
Agar tidak terjebak pada jurusan dengan risiko pengangguran tinggi, penting untuk:
Dengan kombinasi jurusan yang tepat dan keterampilan yang relevan, peluang kerja setelah lulus akan jauh lebih besar.